Headlines News :
::::::>>> www.DutaBangsaNews.com Membangun Kinerja Bangsa Mengucapkan Selamat Mununaikan Ibdah Puasa 1440 H - 2019 M <<<::::::
Home » » Kamboja Pulangkan Sampah Plastik 1.600 Ton ke AS dan Kanada

Kamboja Pulangkan Sampah Plastik 1.600 Ton ke AS dan Kanada

Written By mansyur soupyan sitompul on Kamis, 18 Juli 2019 | 20.33

Phnom Penh - 
Kamboja menjadi negara terbaru di kawasan Asia yang menolak kiriman sampah dari negara-negara Barat. Otoritas Kamboja mengumumkan akan mengirimkan kembali sampah seberat 1.600 ton ke Amerika Serikat (AS) dan Kanada. 

Seperti dilansir CNN, Kamis (18/7/2019), Sekretaris Negara dan juru bicara Kementerian Lingkungan Kamboja, Neth Pheaktra, menuturkan, pihaknya menemukan total ada 83 kontainer berisi sampah plastik yang dikirimkan oleh perusahaan-perusahaan di negara Barat. 

Kontainer itu ditemukan di pelabuhan Sihanoukville pada Selasa (16/7) waktu setempat. Pheaktra menyebut kontainer itu diberi label 'produk daur ulang' namun ternyata berisi sampah plastik. Isi kontainer itu ketahuan setelah dibuka oleh pejabat bea cukai Kamboja. 

Kementerian Bea Cukai kini sedang menyelidiki bagaimana kontainer-kontainer ini berakhir di Kamboja. Otoritas Kamboja juga tengah mencari tahu perusahaan atau kelompok mana yang bertanggung jawab atas kiriman sampah ini. 

Pheaktra menegaskan, pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab atas impor sampah ini akan dihukum denda dan dibawa ke pengadilan. 

Sementara itu, pemerintah federal Kamboja akan memulai proses pengiriman kembali sampah-sampah plastik ini ke negara asalnya, yakni AS dan Kanada. 

"Kamboja bukan tempat sampah di mana negara-negara asing bisa membuang sampah kedaluwarsa, dan pemerintah juga menentang impor sampah plastik dan pelumas untuk didaur ulang di negara ini," sebut Pheaktra. 

Keputusan otoritas Kamboja untuk 'memulangkan' kiriman sampah ke negara-negara Barat ini menjadi insiden terbaru dalam krisis sampah global. Banyak sampah elektronik, plastik dan sampah-sampah lainnya dari negara-negara Barat dikirimkan ke Asia Tenggara.

Tahun lalu, China melarang impor sampah plastik sebagai bagian dari inisiatif untuk membersihkan lingkungan. Langkah China itu memicu efek riak pada jaringan suplai global, dengan para perantara mencari tujuan lain untuk sampah-sampah mereka, seperti ke Malaysia atau Filipina. 

Persoalan impor sampah telah memunculkan industri gelap pendaur ulang sampah tanpa izin. Di Malaysia, awal tahun ini, operasi pemerintah berhasil membongkar sedikitnya 148 pabrik daur ulang tanpa izin yang memicu polusi bagi lingkungan sekitar dengan bau tajam yang beracun dan mengontaminasi sungai setempat.

Filipina dan Kanada terlibat adu argumen sengit soal kiriman sampah. Presiden Rodrigo Duterte bahkan sampah menarik pulang Duta Besar Filipina di Kanada, sebelum akhirnya Kanada sepakat untuk mengambil kembali 2.450 ton sampah yang telah dikirimkan ke Filipina.

Pada Mei lalu, otoritas Malaysia memulangkan 450 ton sampah plastik ke sejumlah negara Barat, termasuk Inggris, Kanada, Amerika Serikat, Jepang dan Belanda.RED
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Published by : DutaBangsaNews.Com
Copyright © 2006. - All Rights Reserved
Media Online :
www.dutabangsanews.com